melakukan observasi atas hukum alam. Istilah ini kemudian jugadigunakan oleh Agust Comte dan dipatok secara mutlak sebagai tahapanpaling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comteberkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga tahapansejarah: pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untukmenjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepadakehendak Tuhan atau Tuhan-Tuhan; tahapan kedua, adalah tahapanfilsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensidan eksistensi; dan adapun Positivisme sebagai tahapan ketiga,menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanyamengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.Pada tahun 1930 M, istilah Positivisme berubah lewat kelompok lingkaranWina menjadi Positivisme Logikal, dengan tujuan menghidupkan kembaliprinsip tradisi empiris abad ke 19. Lingkaran Wina menerimapengelompokan proposisi yang dilakukan Hume dengan analitis dansintetis, dan berasaskan ini kebenaran proposisi-proposisi empirisdikategorikan bermakna apabila ditegaskan dengan penyaksian daneksperimen, dan proposisi-proposisi metafisika yang tidak dapatdieksprimenkan maka dikategorikan sebagai tidak bermakna dan tidakmemiliki kebenaran. Kesimpulan pandangan ini adalah agama dan filsafat(proposisi-proposisi agama dan filsafat) ambiguitas dan tidak bermakna,karena menurut kaum positivisme syarat suatu proposisi memiliki maknaadalah harus bersifat analitis, yakni predikat diperoleh dari dzat subyekkemudian dipredikasikan atas subyek itu sendiri dan kebenarannya lahir dari proposisi itu sendiri serta pengingkarannya menyebabkan kontradiksi,atau mesti bersifat empiris, yakni melalui proses observasi danpembuktian Dengan demikian, sebagaimana ungkapan Kornop ? salahseorang anggota dari Lingkaran Wina ? dalam suatu risalah berjudul"Menolak metafisika dengan analisis logikal teologi", kalimat-kalimat yangmengungkapkan perasaan(affective), seperti: alangkah indahnya cuaca!Atau pertanyaan, seperti: Di manakah letak kota Qum? Atau kalimat-kalimat perintah, metafisika dan agama, karena kalimat-kalimat danproposisi-proposisi tersebut tidak melewati proses observasi daneksprimen maka serupa dengan proposisi-proposisi yang tidak benar (bohong) Kaum Positivisme, seiring dengan perjalanan waktu, mengubahpandangannya yang ekstrim dan perlahan-lahan tidak menegaskankemestian pembuktian dan eksperimen dalam menguji kebenaran suatuproposisi dan bahkan eksprimen tidak lagi dijadikan tolok ukur kebenaranproposisi. Mereka menyadari bahwa jika tolok ukur kebenaran (memilikimakna) proposisi-proposisi adalah melewati proses pembuktian daneksperimen, maka sangat banyak proposisi-proposisi empiris yang tidakakan bermakna (tidak benar), karena tidak dapat dibuktikan secara yakin(100%). Mazhab filsafat ini dalam bagian lain mengakui bahwa manusiatidak mampu menyingkap hakikat realitas ? dalam bentuk pembuktian,penegasan, dan bahkan pembatalan ? tetapi hanya sebatas pemuasan
akal. name="_ednref18">[18] Kesimpulan dari semua pandangan kaumPositivisme adalah bahwa proposisi-proposisi agama yang karena tidakmelewati observasi dan eksprimen maka tidak dikategorikan sebagaimakrifat dan pengetahuan yang bermakna (baca: proposisi agama tidakbenar) dan bahasa agama karena tidak dapat dibuktikan kebenarannyasecara eksprimen, maka tidak menjadi makna yang dapat diperhitungkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar