korespondensi antara pernyataan dalam ayat-ayat suci dengan fakta danrealitas, sebab akan selalu saja ada hal yang sulit dijelaskan dengan faktatetapi harus diyakini, meskipun tidak selamanya demikian. Itulah salahsatu prinsip theologi yang tak bisa dihindarkan. Sementara ketika kitamencoba menerapkan teori kebenaran konsistensi, menjadi sangat sulitkarena putusan sebelumnya akan selalu dapat diragukan/dibantah,sehingga tidak dapat menjadi acuan yang cukup untuk membuahkanputusan-putusan baru. Putusan-putusan sebelumnya juga berupa konseptheologi.Mungkin yang paling menarik adalah teori pragmatis. Kelihatannyadengan teori yang cukup radikal ini (berani membuang fakta, realitas danputusan sebelumnya) kita dapat menemukan sesuatu yang sedikitmemuaskan (satisfies); "Suatu preposisi adalah benar sepanjangpreposisi tersebut berlaku (works), atau memuaskan (satisfied); berlakudan memuaskannya itu diuraikan dengan berbagai ragam oleh parapenganut teori tersebut " Pertanyaannya sekarang, apakah kita merasaagama yang kita anut berguna atau memuaskan buat kita? (tentu sajapenilaian ini menjadi sangat subjektif). Bila jawabannya ya, maka agamatersebut adalah sebuah kebenaran, namun sebaliknya jika jawabannyatidak, maka agama yang kita anut bukanlah kebenaran. Nah ....!Kedengarannya sebuah pernyataan yang terlalu prematur danmengada-ada. Namun sekali lagi, tulisan ini hanya dibuat dengan asumsibahwa yang membacanya pastilah manusia, yang menurut uraianberbagai ahli dibagian awal tulisan ini disebut sebagai mahluk yang selaluberfikir, bertanya dan berusaha untuk mencari kebenaran. Termasukmencari makna benar dari kebenaran itu sendiri. Apakah kita sudahmenyadari hakikat diri kita sendiri, kerendah-hatian ataupun kesombongankita ? Maka teruslah berfikir, tanpa harus menghilangkan keyakinan-keyakinan yang sudah ada. Hanya berfikir jernih terhadap sesuatu yangtelah diyakini bukanlah sesuatu yang tabu apalagi dosa. Semoga kitamasih menjadi manusia yang tak segan untuk berfikir dan bertanya.Manusia hanya berhak berteori dan berusaha mencari, tapi sesungguhnyaapakah, dimanakah dan milik siapakah kebenaran tersebut?Mazhab Positivisme mendapatkan kritikan dan sanggahan yangberat dari pendukung-pendukungnya sendiri, seperti Wittgenstein danPoper, dibawah ini akan diungkapkan sebagian dari kritikan-kritikanmereka: Teori evolusi dan tiga tahapan dari Agust Comte sama sekali tidakmemiliki bukti sejarah yang otentik dan argumen keilmuan yang akurat,landasan ketidakbenaran teori tersebut adalah karena menghubungkantahapan-tahapan sejarah dari sistem masyarakat Eropa pada zaman itudan kemudian menggeneralisasikan pada seluruh tahapan sejarah dunia.Di samping itu, dalam filsafat ilmu kontemporer para ilmuwan telahmembahas dan mengkaji tentang kebutuhan ilmu terhadap filsafat danpengaruh metafisika terhadap teori-teori ilmu.Demikian pula asas Positivisme tentang tolok ukur kebenaranproposisi yang menetapkan bahwa proposisi hanya memiliki makna
(kebenaran) apabila dapat dieksperimenkan dan diobservasi. Danproposisi-proposisi yang non-empiris dikatakan tidak bermaknasebenarnya tidak berangkat dari asas analisis dan tautologi (kebenarantampak dari dirinya sendiri) dan juga bukan berdasarkan sintetis yangdapat dibuktikan dengan penyaksian dan eksperimen. Kaum Positivismememandang bahwa seluruh proposisi-proposisi metafisika tidakbermakna; padahal sebagian dari proposisi tersebut bersifat analitik,seperti: setiap akibat membutuhkan sebab; sedangkan menurut merekaproposisi-proposisi analitik adalah bermakna. Menurut mazhab ini, secaraprinsipil proposisi-proposisi agama tidak sampai pada tahapan yang benar dan bohong, oleh karena itu, penegasian benar dan bohong daripendukung mazhab ini yang dinisbahkan terhadap proposisi-proposisiagama adalah tidak bermakna. Kritikan kita yang paling mendasar terhadap Positivisme adalah menyangkut masalah-masalah yang prinsipildan berasas. Di samping kita mengakui kebenaran metode empiris jugamemandang sah metode logikal dan rasional dalam meraih makrifat. Kitamemandang benar semua metode logikal, rasional, syuhudi, naqli (tekssuci) dan sejarah. Setelah kami menampilkan dua bentuk pendekatan danteori terhadap bahasa agama yang terdapat dalam teologi dan filsafatKristen dan Barat, untuk tidak larut dalam pembahasan yangberkepanjangan, maka kami cukupkan pengenalan terhadapnya denganmenggunakan dua pendekatan dan teori tersebut. Kendatipun padahakikatnya pembahasan bahasa agama yang ada pada teologi dan filsafatKristen dan Barat ini adalah jauh lebih luas serta sangat kompleks (masihterdapat berbagai aliran dan pandangan, seperti teori analitik bahasa, teorisimbolik, teori permainan bahasa (language game) dan?), bahkan bolehdikatakan bahwa hingga sekarang ini, pembahasan tersebut belum tuntasdan masih belum ditemukan pemecahannya yang akurat yang bebas dariberbagai kelemahan dan kritikan. Adapun dalam teologi dan filsafat Islammeskipun pembahasan ini tidak begitu luas dan tidak terdapat berbagaialiran dan pandangan, akan tetapi berkat kemurnian dan keorisinalanajaran Islam (kitab suci al-Qur'an) serta ilham dan petunjuk yangdidapatkan oleh para teolog dan filosof Islam dari kitab suci tersebutsehingga menyebabkan pandangan dan pemikiran mereka dalammasalah ini mengarah pada kesatuan dan keselarasan universal(misalnya mereka berpandangan bahwa proposisi-proposisi agamaadalah bermakna), walaupun masih terdapat perbedaan secara partikular,misalnya perdebatan tentang sifat-sifat Tuhan dan sifat-sifat makhluk-Nyaapakah bersifat homonim atau univokal.Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lainMoritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer. Karl Popper,meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salahsatu kritikus utama terhadap pendekatan neo-positivis ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar