Jumat, 20 Mei 2011

Pengertian Roman

Pengertian Roman

Roman adalah suatu jenis karya sastra yang merupakan bagian dari epik panjang. Dan dalam perkembangannya roman menjadi suatu karya sastra yang sangat digemari. Seperti yang dikemukakan Ruttkowski & Reichmann (1974 : 37) bahwa : “Der Roman hat sich seit den 16. Jahrhundert zur beliebigsten epischen Großform in der Prosa entwickelt.”
Sebagai karya sastra epik panjang, roman berisi paparan cerita yang panjang yang terdiri dari beberapa bab, di mana antara bab satu dengan yang lain saling berhubungan. Biasanya bercerita tentang suatu tokoh dari lahir sampai mati.
Kata roman sendiri berasal dari bahasa Perancis “romanz” abad ke-12, serta dari ungkapan bahasa Latin yaitu “ lingua romana”, yang dimaksudkan untuk semua karya sastra dari golongan rakyat biasa.(Matzkowski,1998:81).
Roman adalah suatu karya sastra yang disebut fiksi. Kata fiksi di sini berarti sebuah karya khayalan atau rekaan. Dengan kaitannya roman sebagai karya yang fiksi, Goethe mengatakan :
“Der Roman soll uns mögliche Begebenheiten unter unmöglichen oder beinahe unmöglichen Bedingungen als wirklich darstellen. der Roman ist eine subjective Epopöe, in welcher der Verfasser sich die Erlaubnis ausbittet, die Welt nach seiner Weise darzustellen” (Neis, 1981:13).

“Roman (seharusnya) mengambarkan peristiwa yang mungkin terjadi dengan kondisi yang tidak memungkinkan atau hampir tidak memungkinkan sebagai sebuah kenyataan. Roman adalah sebuah cerita subjektif, di dalamnya pengarang berusaha menggambarkan dunia menurut pendapatnya sendiri”.

Dari pengertian di atas dapat dittarik kesimpulan bahwa roman adalah sebuah karya gambaran dunia yang diciptakan oleh pengarangnya, yang di dalamnya menampilkan keseluruhan hidup suatu tokoh beserta permasalahannya, terutama dalam hubungan dengan kehidupan sosialnya.

Jenis Roman
Karya sastra yang akan dibahas oleh penulis adalah Bildsdungroman. Agar dapat memahami sebuah roman, kita harus bisa membedakannya dari roman-roman jenis lain. Roman diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan pengutamaannya. Ruttkowski dan Reichman (1974 :23), mengatakan bahwa jika dalam sebuah roman lebih diutamakan penggambaran seseorang atau beberapa orang tokoh, maka roman itu disebut Figurenroman; atau penggambaran sebuah dunia, disebut Raumroman; atau pembentukan suatu tindakan yang menarik disebut Handlungsroman.
Berdasarkan penitikberatan cerita, roman dibagi dalam :
a. Roman Kriminal dan Detektif ( Krimi –und Detektivroman)
Sebuah roman kriminal menitikberatkan ceritanya kepada psikologi seorang penjahat, sedangkan dalam roman detektif lebih kepada teka-teki yang harus dipecahkan oleh detektif dengan kemampuan melacaknya.
b. Roman Petualangan ( Abendteuerroman)
Pada roman petualangan sang tokoh utama, baik sengaja maupun tidak sengaja terjebak dalam berbagai macam petualangan yang kebanyakan satu sama lain tidak berhubungan. Roman petualangan merupakan jenis sastra yang disukai pada segala zaman karena ceritanya yang menegangkan.
c. Roman Psikologi ( psychologischer Roman )
Dalam “Schüler Duden-Die Literatur” (1989:66) dijelaskan bahwa roman psikologi adalah jenis roman yang sedikit sekali menceritakan tentang perbuatan tokohnya, tetapi lebih kepada bagaimana keadaan batin tokoh. Pengarang lebih tertarik pada penggambaran kejiwaan dan karakter seorang manusia.

d. Roman Pencintaan (Liebesroman)
Dalam buku “Sachwörterbuch der Literatur” (Wilpert, 1989:513), dijelaskan sebagai berikut :
1. Bahwa dari segi bahan cerita, tema utama roman ini adalah percintaan zaman Romantik
2. Dalam artian yang lebih sempit, roman percintaan adalah jenis roman picisan (Trivialroman) untuk pembaca wanita, yang kebanyakan menyangkut sisi kepahlawanan wanita yang klise dan idealis dengan gaya bahasa picisan sampai kepada akhir bahagia yang tidak dapat dihindarkan dan tidak realistis(Wilpert, 1989:513).
e. Roman Hiburan (Unterhaltungsroman)
Roman ini dibuat untuk memuaskan keinginan para pembaca terhadap hiburan. Dibandingkan dengan yang lebih berkelas (gehobene Literatur), jenis roman ini tidak bercerita tentang perselisihan yang mendalam dengan permasalahan yang mengharukan seperti juga melalui bentuk-bentuk baru pada gaya dan penggambaran, agar tidak menyulitkan pembaca untuk mengerti jalan ceritanya. Kebanyakan roman ini berakhir dengan bahagia.
f. Roman Anak dan Remaja (Kinder-und Jugendroman)
Tema, bahan cerita, dan bentuk roman ditulis untuk anak dan remaja, dan biasanya terdapat aspek untuk menghibur, mengajar dan mendidik. Dalam roman ini biasanya disertai dengan dengan gambar ilustrasi yang bertujuan agar pembaca mudah memahami isi cerita yang disajikan. Prinsip dasar roman ini adalah adaptasi/asimilasi : kalimat – kalimat yang terdapat dalam roman harus disesuaikan dengan psikologi anak dan remaja.(Groschenek, 1979 :7)
g. Roman pendidikan (Bildsdungsroman)
Tema dan isi cerita dalam roman ini menitik beratkan pada perkembangan pendidikan tokoh utama dalam cerita. Oleh W. Dilthey roman ini disebut roman zaman klasik dan romantik. Pendidikan mempunyai arti “ kemanusiaan yang sempurna (vollendeter Humanität). Roman pendidikan dimaksudkan untuk roman yang bercerita tentang perkembangan kejiwaan dan karakter seorang manusia (1989 : 66).
Menurut Metzler Lexikon Literatur roman terbagi atas beberpa bagian yang besar yaitu berdasarkan materi, berdasarkan tema, berdasarkan teknik penceritaan, berdasarkan sasaran, dan berdasarkan tuntutan.
a. Roman berdasarkan materi (Roman nach Stoffen und dargestelltem Personal) : roman petualangan (Abendteuerroman), roman pahlawan (Ritterroman), roman kriminal (Kriminalroman), roman perjalanan (Reiseroman)
b. Roman berdasarkan tema (Roman nach Themen und behandelten Problemen) : roman percintaan (Liebesroman), roman pendidikan (Erziehungsroman), roman sosial (Gesellschaftsroman)
c. Roman berdasarkan teknik penceritaan (Roman nach dem Erzählverfahren) : roman orang pertama (Ich-Romane), Roman orang kedua (Er-Romane)
d. Roman berdasarkan sasaran (Roman nach dem Addresatten) : roman perempuan (Frauenroman), roman remaja (Jugendmädchenroman), roman anak-anak (Kinderroman)
e. Roman berdasarkan tuntutan (Roman nach Anspruch und Verfahrenweise) : roman picisan (Trivialroman), roman hiburan (Unterhaltungsroman)

Unsur Intrinsik dalam Roman
Dalam mengkaji suatu karya sastra, kita tidak akan bisa lepas dari apa yang membangun suatu karya sastra itu sendiri, yaitu unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Unsur intrinsik dalam suatu karya sastra, dalam hal ini adalah roman, yaitu unsur – unsur yang terdapat di dalam karya sastra itu sendiri yang akan ditemukan oleh para pembaca seperti tema, alur, tokoh dan penokohan, gaya bahasa, sudut pandang, dan latar, sedangkan unsur ekstrinsik sendiri adalah unsur yang mempengaruhi karya sastra namun tidak menjadi bagian di dalamnya biografie pengarang, keadaan politik, dan ekonomi.
Berikut akan dijabarkan unsur – unsur intrinsik yang membangun suatu roman untuk menjadi suatu karya sastra yang utuh.
Tema
Dalam suatu karya sastra pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui hasil karyanya. Sesuatu yang berupa gagasan atau ide yang mendasari karya sastra tersebut disebut tema.
Der Begriff “Thematik” bezeichnet den eigentlichen Aussagegehalt, das, was man gemeinhim “Sinn”, “Gehalt”, “Problematik” oder gelegenlicht gar “Anliegen” nennt (Gutzen, 1997:13).


Definisi “Thematik” (isi pokok pembicaraan/uraian/karangan; Heuken, 1993:505) menunjukkan suatu majna karya sastra yang sesungguhnya yang biasa disebut suatu “arti”, “isi”, “permasalahan”, atau terkadang disebut juga sebagai “keinginan”.

Jenis roman yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Bildsdungroman (roman pendidikan) yang menitikberatkan tema pada perkembangan dari tokoh utama baik secara kejiwaan dan batiniah.
Alur
Alur meliputi bahan cerita dari roman, maupun isi cerita dari roman, serta struktur bangunan cerita. Di dalam struktur bangunan cerita dapat dilihat isi cerita yang terangkai dari unsur – unsur cerita.
Pada dasarnya sebuah cerita tersusun dari beberapa rangkaian peristiwa. Dan peristiwa itu sendiri dapat diartikan sebagai, “peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain”(Luxemburg dalan Nurgiyantoro, 1995 : 117), sedangkan kaitan antarperistiwa yang menimbulkan sebab akibat disebut alur atau plot.
Untuk menghasilkan suatu cerita yang bersifat padu dan utuh diperlukan alur yang memiliki sifat keutuhan dan kepaduan pula. Menurut Aristoteles, untuk memenuhi kriteria tersebut sebuah alur harus terdiri dari “tahap awal (beginnign), tahap tengah (midle), dan tahap akhir (end)” (Abrams dalam Nurgiyantoro,

Rabu, 18 Mei 2011

Mobil Terpanjang Dan Audio Mobil Terbanyak

.04:20

Mobil terpanjang
Muri 05-10-2008
Rekoris : M Rizky Haroen, Cody Enterprises & King Interior
Modifikasi mobil terpanjang berukuran 6,7 meter, dibuat dari mobil Subaru Type Imprezza dalam rangka Accelera Auto Contest 2008












-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Muri 05-10-2008
Rekoris : Clear Racing by Citibank Clear Card
Clear Racing by Citibank Clear Card bekerjasama dengan Cody Enterprises

menyelenggarakan pameran mobil dengan perangkat audio terbanyak, 100 audio; mobil dengan monitor multimedia terbanyak, 35 monitor dan kontes mobil modifikasi yang diikuti oleh 170 mobil. Kegiatan berlangsung di Surabaya pada 28 Maret 2008.

Asal Muasal Teka Teki Silang

Asal Muasal Teka Teki Silang

.23:18

Saat suntuk, atau kadang ketika harus menunggu sesuatu, kita seringkali mudah merasa bosan. Karena itu, berbagai cara kita lakukan. Mulai dari main game yang ada di handphone, mengobrol, hingga mengisi teka teki silang (TTS).

Asal Muasal Teka Teki Silang
Hal yang terakhir inilah yang sebenarnya paling menantang bagi sebagian orang. Sebab, sembari iseng, bisa sekaligus mengasah kemampuan otak dan menambah pengetahuan. Karena itu,penggemar TTS bisa dikatakan sangat merata. Baik orang remaja, orang dewasa, bahkan anak-anak pun kadang banyak yang memainkan permainan asah otak ini. Tak heran, berbagai media massa, seringkali memberikan TTS pada edisinya sehingga TTS ini menjadi sangat populer di berbagai belahan dunia.

Tapi, tahukah Anda siapa sebenarnya pencipta permainan asah otak ini? Adalah seorang bernama Arthur Wynne yang pada sekitar tahun 1913 yang menciptakan TTS. Suatu ketika, Arthur yang bekerja di sebuah media bernama New York World mendapat tugas dari bosnya untuk membuat semacam permainan yang akan dimuat di media itu pada bagian “fun”. Berbagai hal dicobanya untuk menciptakan permainan yang menarik pembaca.

Suatu kali, ia teringat pada masa kecilnya. Arthur ingat bahwa ia pernah memainkan sebuah permainan yang dinamakan “Magic Squares”. Permainan itu adalah permainan kata-kata, dimana sang pemain harus menyusun kata agar sama mendatar dan menurun hingga membentuk kotak. Dari permainan ini, ia kemudian mencoba berkreasi dengan menambah luasan kata-kata dengan bentuk yang lebih kompleks. Dan, untuk menyusun hal itu, ia memberi semacam pertanyaan untuk membuka kunci jawabannya.

TTS ala Arthur ini kemudian muncul pertama kali pada 21 Desember 1913. Bentuknya waktu itu dibuat dengan pola ketupat. Sederhana dan sangat mudah dimainkan. Namun, justru dengan kesederhanaan dan kemudahan ini, membuat banyak orang langsung menyukai permainan ini. Maka, kesuksesan ini segera diikuti oleh berbagai media lain. Dan, saking suksesnya, permainan ini pun di bukukan pada tahun 1924.

Kemudian, pada tahun 1942-an, New York Times, koran ternama di Amerika membuat semacam standar untuk TTS. Standar itu seperti bentuk yang simetris dan panjang kata minimal tiga huruf. Hal ini membuat permainan TTS makin asyik dan populer, hingga akhirnya menyebar ke berbagai belahan dunia.[ Wedung.Com ]

Asal Mula Nama Mata Uang Rupiah

.22:15

Asal Mula Nama Mata Uang Rupiah
Pernah kepikiran kalau mata uang Indonesia harus 'rupiah'...
Pastilah pernah kadang tersirat di pikiran kita.
Nahh.. Kali ini mari kita bahas ulasan mengenai asal usul rupiah yang notabene menjadi nama mata uang Indonesia.

Perkataan “rupiah” berasal dari perkataan “Rupee”, satuan mata uang India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610 hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda.

Mata uang rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi pada waktu Pendudukan Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama rupiah Hindia Belanda. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank, selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang rupiah jawa sebagai pengganti.

Mata uang gulden NICA yang dibuat oleh Sekutu dan beberapa mata uang yang dicetak kumpulan gerilya juga berlaku pada masa itu.

Sejak 2 November 1949, empat tahun setelah merdeka, Indonesia menetapkan Rupiah sebagai mata uang kebangsaannya yang baru. Kepulauan Riau dan Irian Barat memiliki variasi rupiah mereka sendiri tetapi penggunaan mereka dibubarkan pada tahun 1964 di Riau dan 1974 di Irian Barat.

Krisis ekonomi Asia tahun 1998 menyebabkan nilai rupiah jatuh sebanyak 35% dan membawa kejatuhan pemerintahan Soeharto.

Rupiah merupakan mata uang yang boleh ditukar dengan bebas tetapi
didagangkan dengan pinalti disebabkan kadar inflasi yang tinggi .

Satuan di bawah rupiah
Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan gulden Hindia Belanda, sehingga dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial.

Berikut adalah satuan-satuan yang pernah dipakai namun tidak lagi dipakai karena penurunan nilai rupiah menyebabkan satuan itu tidak bernilai penting.
* sen, seperseratus rupiah (ada koin pecahan satu dan lima sen)
* cepeng, hepeng, seperempat sen, dari feng, dipakai di kalangan Tionghoa
* peser, setengah sen
* pincang, satu setengah sen
* gobang atau benggol, dua setengah sen
* ketip/kelip/stuiver (Bld.), lima sen (ada koin pecahannya)
* picis, sepuluh sen (ada koin pecahannya)
* tali, seperempat rupiah (25 sen, ada koin pecahan 25 dan 50 sen)

Terdapat pula satuan uang, yang nilainya adalah sepertiga tali.

Satuan di atas rupiah
Terdapat dua satuan di atas rupiah yang sekarang juga tidak dipakai lagi.
* ringgit, dua setengah rupiah (pernah ada koin pecahannya)
* kupang, setengah ringgit.

Selasa, 10 Mei 2011